Selasa, 06 Agustus 2013

Pacar manisku - 4

Lama aku tidak bertemu dengan Liza, karena perusahaan tidak membolehkanku pulang selama masa training itu. Setahun kemudian aku pulang, tapi sengaja aku tidak memberitahunya supaya ada kejutan. Sampai di pelabuhan aku lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta api, lalu aku masuk ke dalam kereta eksekutif jurusan kota kelahiranku lalu duduk di kursi yang berada dibelakang, aku melamunkan Liza sambil melihat keluar dari jendela kereta sehingga tanpa terasa ada seorang penumpang bertanya:
"Maaf Mas apa kursi ini kosong?" tanya suara itu.
Aku terkejut. Oh Tuhan rupanya aku melamun cukup lama tadi itu, gumamku dalam hati. Belum habis rasa terkejutku aku tersentak ketika aku memalingkan kepada seraut wajah itu.
"Ka.. kaa.. mu.. Liz!" teriakku demikian pula gadis itu.
"Maas.." sahut gadis itu yang ternyata adalah Liza dan ia tidak dapat membendung air matanya dan jatuhlah ia dalam pelukku.
"Aku kangen padamu Liz!" aku membuka perbincangan kami berdua.
"Aku juga kangen Mas!" bisiknya sambil merebahkan pundaknya di bahuku.

Rupanya Liza baru saja akan pulang dari tempat saudaranya yang sedang sakit di kota itu. Aku yang sudah terangsang sekali karena setahun tidak ketemu dia. Kulumat bibirnya yang paling kusukai itu dan desahannya semakin menjadi saat ujung lidahku memainkan belakang kupingnya. Aku mengambil kedua pahanya dan aku tumpukan pada pahaku sementara kepalanya bersandar pada bantal. Tepat disela-sela pantatnya batang kemaluanku yang sedari tadi bangkit dan menyembul mendorong celana jeans-ku.

Takut dengan penumpang lain, aku buru-buru menyumpali bibirnya dengan bibirku. Tanganku dibimbingnya menuju busungan dadanya. Tanpa diperintah aku menelusupkan tanganku ke kedua bukitnya yang kenyal itu.
"Mass! aku kangeen banget sama mas," bisiknya saat aku mulai mengecup mesra putingnya.
Sementara aku mangambil bantal satu lagi dan kusandarkan di "legrest" dekat jendela. Dia menjambak rambutku amat kuat saat putingnya kugigit-gigit. Sementara puting satunya kupilin dengan telunjuk dan jempolku. Badanku mulai hangat, demikian pula tubuh Liza semakin menggelinjang tak karuan. Aku masih saja memberikan sensasi kenikmatan pada kedua putingnya yang masih kenyal dan ternyata itu merupakan titik didihnya.

Desahnya saat aku menyedot kencang payudaranya hingga tenggelam setengahnya di mulutku. Ia menggelinjang pelan dan ia menggosok-gosok kedua pahanya dan celana panjangnya mulai lembab oleh cairan vaginaya. Sesaat kemudian kupelorotkan celana panjangnya serta CD-nya dan Liza makin menggelepar hebat dan secepat kilat aku mencium rambut-rambut di bawah pusarnya, hhmm.. harum sekali. Tiba-tiba kepalaku ditekannya menuju lubang kewanitaannya dan aku bagai kerbau di congok menuruti saja apa yang ia inginkan. Sementara jari tengahku memainkan liang kemaluannya. Kutusuk pelan-pelan dan kukeluar-masukkan dengan lembut.

Liza semakin tak menguasai dirinya dan mengambil bantal untuk menutup mulutnya dan aku hanya mendengar suara desahan yang tak begitu jelas. Akan tetapi Liza bereaksi hebat dan tak lagi menguasai posisinya di pangkuanku. Batang kemaluanku yang sedari tadi tegang rasanya sia-sia kalau tidak aku sarangkan di lubang kemaluan wanita yang kukangeni itu. Aku mengangkat sedikit pinggulnya dan lalu kukeluarkan batang kemaluanku, sementara aku mulai mengatur posisi Liza untuk kumasuki.

"Slepph!" dengan mudah kepala batang kemaluanku masuk karena lubang kemaluannya sudah lembab dari tadi. Bersamaan itu Liza mengernyitkan dahinya dan mendesah. Liza menjerit lirih saat semua batang kemaluanku menjejali rongga rahimnya. Rasanya begitu hangat dan sensasional dan aku membisikkan padanya agar jangan menggoyangkan pantatnya. Kami rindu dan ingin berlama-lama menikmati moment kami kedua yang amat indah, syahdu dan nikmat ini. Aku melipat pahaku dan aku menyelusupkan dibalik punggungnya agar dia merasa nyaman dan memaksimalkan seluruh batang kemaluanku di rahimnya. Kurengkuh tengkuknya dan kulumat bibirnya dengan lembut bergantian ke belakang telinga dan lehernya yang jenjang. Tangan kiriku memberikan sentuhan di klitorisnya, kutekan dan kugoyang ujung jariku disana.

"Oookkh.. Mass .. aaku.. kaan.. ngen.. "
katanya terbata saat aku menciumi belakang lehernya. Tubuhnya mulai menggigil dan Liza diam sesaat merasakan pejalnya batang kemaluanku mengisi rahimnya, wajahnya menahan sesuatu untuk diekspresikan. Aku merasakan bahwa ia sebentar lagi mendapatkan orgasmenya, lantas buru-buru kubisikkan ditelinganya.
"Tumpahkan semua rindumu Sayang.. aku akan menyambutmu.." bisikku mesra.
Aku membantunya mempercepat tempo permainan ujung jariku di klitorisnya, sementara itu ujung lidahku juga tidak ketinggalan memutar-mutar putingnya dan sesekali menyedotnya lembut.

"Aakhh.. aakkhh.. Mass..sshh.." hanya itu yang ia ucapkan.
Desahan-desahannya membuatku semakin bernafsu menjelajahi seluruh tubuhnya dengan ujung lidahku dan buru-buru Liza menarik kepalaku. Ia lantas melumat bibirku kesetanan bagai tiada hari esok dan lantas aku melumat bibirnya dan kulepas permainanku diklitorisnya. Tangan kiriku kutarik ke atas untuk menstimulasi puting kirinya dan ternyata usahaku tidak sia sia.
"Oookhh.. nikk.. matt..Saayy.. yang.." desah Liza dalam erat dekapanku.
Desahannya mengakhiri orgasmenya menandakan kepuasan dari cinta kami berdua. Aku mengambil jaketku dan menutupi bagian pribadi kami yang sempat morat-marit. Meskipun batang kemaluanku masih tertancap dalam-dalam! Akan tetapi aku tidak ingin mengakhirinya dengan ejakulasiku karena situasi saja yang tidak memungkinkan.
"Aaawww.. geli Mass.." desah Liza geli oleh denyutan batang kemaluanku.
"Baik Liza sayang.. aku akan mencabutnya.."
"Aaahh," Liza menjerit lirih kegelian.
Kami pun tertidur bersama hingga sampailah kami di kota kami yang penuh kenangan bagi kami berdua.
"Eh Mas mau kemana sekarang?" selidik Liza.
"Mau pulang ikut yuk," jawabku enteng.
Aku lantas merangkul dia ke dalam pelukanku. Angan laki-lakiku pun mulai berimprovisasi dan aku telah menemukan retorika tepat untuk dia.

"Liz aku khan belum puas melepas rindu sama kamu, kita lanjutin di rumahku yukk!" ajakku.
Singkatnya kami segera menuju rumahku. Kebetulan rumahku sedang sepi. Setelah mandi dan makan malam kami terlibat obrolan agak lama tentang kenangan kami. Lalu aku pangku Liza. Dalam keadaan berdekatan kayak gini, aku punya inisiatif untuk memeluk dan menciumnya. Dan Liza sudah berada dalam pelukanku, dan bibirnya sudah dalam lumatan bibirku. Dia diam saja dan mulai memejamkan matanya menikmati percumbuan ini. Tangannya perlahan berganti posisi menjadi memeluk leherku. Tanganku yang tadinya memegang pinggulnya, turun perlahan ke pangkal pahanya dan akhirnya..

Aku berhasil meraba merasakan betapa mulus dan lembutnya paha Liza. Kuraba naik turun sambil sedikit meremasnya. Sedang bibir kami masih saling berpagutan mesra dalam keadaan mata masih terpejam. Tanganku mulai naik lagi. Sekarang aku mengangkat bajunya, dan kelihatanlah buah dadanya yang masih terbungkus rapi oleh BHnya. Aku lumat lagi bibirnya sebentar sambil tanganku ke belakang tubuhnya. Memeluk,. dan akhirnya aku mencari kancing pengait BHnya untuk kulepas. Tidak lama terlepaslah BH pembungkus buah dadanya. Dan mulailah tersembul keindahan buah dadanya yang putih dengan puting kecoklatan diatasnya.

Benar-benar pemandangan yang menakjubkan buah dada Liza yang terawat rapi selama setahun ini belum pernah kulihat lagi. Akhirnya aku mulai meraba dan meremas-remas salah satu buah dadanya dan kembali kulumat bibir mungilnya. Terdengar nafas Liza mulai tidak teratur. Kadang Liza menghembuskan nafas dari hidungnya cepat hingga terdengar seperti orang sedang mendesah. Liza makin membiarkan aku menikmati tubuhnya. Birahinya sudah hampir tidak tertahankan. Saat kurebahkan tubuhnya di sofa dan mulutku siap melumat puting susunya, Liza menolak sambil mengatakan,
"Mas, jangan disini,.dikamar Mas aja!" ajaknya dan segera aku bopong tubuhnya menuju ke kamarku.
Begitu pintu ditutup dan dikunci, langsung kupeluk Liza yang sudah telanjang itu dan kembali melumat bibir mungilnya dan melanjutkan meraba-raba tubuhnya sambil bersandar di tembok kamarnya. Lama-lama cumbuanku mulai beralih ke lehernya yang jenjang dan menggelitik belakang telinganya. Liza mulai mendesah pertanda birahinya semakin menjadi-jadi. Saking gemesnya sama tubuh Liza, nggak lama tanganku turun dan mulai meraba dan meremas bongkahan pantatnya yang begitu montoknya.

Liza mulai mengerang geli, terlebih ketika aku lebih menurunkan cumbuan gue ke daerah dadanya, dan menuju puncak bukit kembar yang menggelantung di dada Liza. Dalam posisi agak jongkok dan tanganku memegang pinggulnya, aku mulai menggerogoti puting susu Liza satu persatu yang membuat Liza kadang menggelinjang geli, dan sesekali melenguh geli. Kujilati, kugigiti, kuemut dan kuhisap puting susu Liza, hingga Liza mulai lemas. Tangannya yang bertumpu pada dinding kamar mulai mengendor.

Perlahan tanganku meraba kedua pahanya lagi dan rabaan mulai naik menuju pangkal pahanya.. Dan aku mengaitkan beberapa jari di celana dalamnya dan "srreet!!" Lepas sudah celana dalam Liza. Kuraba pantatnya, begitu mulus dan kenyal, sekenyal buah dadanya. Dan saat rabaanku yang berikutnya hampir mencapai daerah selangkangannya..tiba-tiba,
"Mas, di tempat tidur aja yuk..! Liza capek berdiri nih."
Sebelum membalikkan badannya, Liza memelorotkan celana panjangnya di hadapanku dan tersenyum manis memandang ke arahku. Ala mak, senyum manisnya itu..Bikin aku kepingin cepat-cepat menggumulinya. Apalagi Liza tersenyum dalam keadaan bugil alias tanpa busana. Liza mendekati aku dan tangannya dengan lincah melepas celana panjang dan celana dalamku hingga kini bukan hanya dia saja yang bugil di kamarnya. Batang kemaluanku yang tegang mengeras menandakan bahwa aku sudah siap tempur kapan saja.

Lalu Liza mengambil tanganku, menggandeng dan menarikku ke ranjang. Sesampainya di pinggir ranjang, Liza berbalik dan mengisyaratkan agar aku tetap berdiri dan kemudian Liza duduk di sisi ranjangnya. Liza mengulum batang kemaluanku dengan rakusnya. Lalu dia dengan ganasnya pula menggigit halus, menjilat dan mengisap batang kemaluanku tanpa ada jeda sedikitpun. Kepalanya maju mundur mengisapi kemaluanku hingga terlihat jelas betapa kempot pipinya. Aku berusaha mati-matian menahan ejakulasi agar aku bisa mengimbangi permainannya. Ada mungkin 15 menit Liza mengisapi batang kemaluanku, lalu dia melepas mulutnya dari batang kemaluanku dan merebahkan tubuhnya telentang diatas ranjang.

Aku mengerti sekali maksud gadisku ini. Dia minta gantian aku yang aktif. Segera kutindih tubuhnya dan mulai berciuman lagi untuk beberapa lamanya, dan aku mulai mengalihkan cumbuan ke buah dadanya lagi, kemudian turun lagi mencari sesuatu yang baru di daerah selangkangannya. Liza mengerti maksudku. Dia segera membuka, mengangkangkan kedua pahanya lebar-lebar membiarkanku membenamkan muka di sekitar bibir vaginanya. Kedua tangan aku lingkarkan di kedua pahanya dan membuka bibir vaginanya yang sudah memerah dan basah itu. Aku julurkan untuk menjilati bibir vaginanya dan buah kelentit yang tegang menonjol.

Liza menggelinjang hebat. Tubuhnya bergetar hebat. Desahannya mulai seru. Matanya terpejam merasakan geli dan nikmatnya tarian lidahku di liang sanggamanya. Kadang pula Liza melenguh, merintih, bahkan berteriak kecil menikmati gelitik lidahku. Terlebih ketika kujulurkan lidahku lebih dalam masuk ke liang vaginanya sambil menggeser-geser klitorisnya. Dan bibirku melumat bibir vaginanya seperti orang sedang berciuman. Vaginanya mulai berdenyut hebat, hidungnya mulai kembang kempis, dan akhirnya..
"Mas.ohh..mas.udahh..cepetan masukin punya masshh.. oh..!!"
Liza memohon kepadaku untuk segera menyetubuhinya. Aku bangun dari daerah selangkangannya dan mulai mengatur posisi diatas tubuhnya dan menindihnya sambil memasukkan batang kemaluanku ke dalam lorong vaginanya perlahan. Dan akhirnya aku genjot vagina Liza secara perlahan dan jantan. Masih terasa sempit karena sudah setahun tidak dipakai, dan remasan liangnya membuatku tambah penasaran dan ketagihan. Akhirnya aku sampai pada posisi paling dalam, lalu perlahan kutarik lagi. Pelan, dan lama kelamaan aku percepat gerakan tersebut. Kemudian posisi demi posisi kucoba dengan Liza.

Aku sudah nggak sadar berada dimana. Yang aku tahu semuanya sangat indah. Rasanya aku seperti melayang terbang tinggi bersama Liza. Yang kutahu, terakhir kali tubuhku dan tubuh Liza mengejang hebat. Keringat membasahi tubuhku dan tubuhnya. Nafas kami sudah saling memburu. Aku merasa ada sesuatu yang memuncrat banyak banget dari batang kemaluanku sewaktu barangku masih di dalam kehangatan liang sanggama Liza. Habis itu aku nggak tahu apa lagi. Sebelum tertidur aku sempat melihat jam. Alamak..! dua setengah jam.

Waktu aku sadar besoknya, Liza masih tertidur pulas disampingku, masih tanpa busana dengan tubuh masih seindah dulu. Sambil memandanginya, dalam hati aku berkata,
"Akhirnya aku bisa ngelampiasin nafsu yang aku pendam selama setahun ini".

Setahun kemudian Liza lulus kuliah dan aku segera melamarnya. Dan jadilah Liza istriku yang sangat kusayangi hingga saat ini.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar